Mengenal Teknikal Analisis Secara Mendalam
![]() |
| Teknikal Analis menganalisa pergerakan pasar - (credit foto: freefik.com) |
Teknikal Analisis adalah suatu methode pengevaluasian
saham, komoditas ataupun sekuritas lainya dengan cara menganalisis statistik
yang dihasilkan oleh aktivitas pasar di masa lampau guna memprediksi pergerakan
harga di masa mendatang.
Para analis melakukan riset dengan menggunakan data-data
teknikal ini disebut technical analyst, atau juga sering disebut dengan
technicalist, technician atau chartist. Para techicalist ini tidak menggunakan
data-data ekonomi untuk mengukur nilai sebenarnya (intrinsic value) dari suatu
saham seperti yang dilakukan oleh para fundamentalist, tetapi menggunakan
grafik (chart) yang merekam pergerakan harga yang terjadi di pasar.
Supaya lebih mudah dimengerti, perbedaan fundamentalist
dengan technicalist dapat di ibaratkan seperti orang yang sedang berbelanja di
mall. Para fundamentalist pergi ke setiap toko yang ada di dalam mall,
mempelajari nilai barangnya (intrinsic
value), baru kemudian mengambil keputusan untuk membeli. Sedangkan seorang
technikalist duduk dan memperhatikan orang-orang yang keluar masuk serta berbelanja
di toko-toko tersebut, baru kemudian mengambil keputusan berdasarkan hal ini
tanpa mengukur nilai intrinsiknya sendiri.
Ada tiga pemikiran yang menjadi dasar Teknikal Analisis,
yaitu:
- Pergerakan harga yang terjadi di pasar telah mewakili semua faktor lain (market action discounts everyting)
- Terdapat suatu pola kecenderungan dalam pergerakan harga (prices move in trends)
- Sejarah akan terulang (history repeats itself)
Pernyataan pada poin nomer satu, “Pergerakan harga yang terjadi di pasar telah mewakili semua faktor lain
(market action discounts everyting)”
mungkin merupakan poin terpenting dalam menjadi dasar utama pemikiran dalam teknikal analisis. Bila poin ini tidak dipahami secara mendalam, maka penjelasan lain
dalam studi technikal analysis akan menjadi lebih sulit dimengerti ataupun
diterima.
Para technicalist menyakini
bahwa segala sesuatu yang bisa mempengaruhi harga saham -baik itu dari segi fundamental,
politik, maupun faktor-faktor lainnya- secara psikologis sebenarnya tercermin
pada pergerakan harga yang terjadi di pasar. Hal ini dikarenakan hukum
penawarnan dan permintaan (supply & demand) yang membentuknya. Dari dasar
hukum ekonomi ini para technicalist menyimpulkan bahwa jika harga naik, apapun
alasan di balik kenaikan harga tersebut, demand pasti lebih besar dari pada
supply dan dari sisi fundamental mestinya bullish. Sebaliknya jika harga turun,
supply pastinya lebih besar daripada demand dan dari sisi fundamental mestinya
bearish.
Jadi grafik (chart)
itu sendiri tidaklah menyebabkan harga naik ataupun turun, namun merupakan
cerminan psikologis dari para pelaku pasar itu sendiri. Chart dapat di
ibaratkan seperti “foto”. Dari gambar yang terpotret di sebuah foto, kita dapat
memperkirakan apakah orang tersebut sedang sehat atau sakit, berbahagia atau
sedih, dan lain sebagainya. Mengenai psikologi yang menjadi latar belakang pergerakan
harga ini akan di bahasa secara detail dalam postingan -postingan saya
berikutnya. Jadi pantengi terus blog ini.
Bullish dan Bearish adalah istilah dalam bahasa Inggris
yang digunakan untuk melambangkan situasi pasar. Bullish berasal dari kata:
bull yang artinya banteng. Seperti ciri banteng yang suka mengayunkan tanduknya
ke atas, melambangkan optimisme para pelaku pasar dalam kondisi pasar yang
harganya sedang naik. Sedangkan Bearish berasar dari kata bear yang artinya
beruang. Seperti ciri beruang yang suka mengayunkan cakarnya ke bawah,
melambangkan pesimisme para pelaku pasar dalam kondisi pasar yang harganya
sedang turun.
| Aksi Bullish Versus Bearish dalam pasar uang di lambangkan Banteng dan Beruang |
Sering sekali pada tahap awal suatu pola pergerakan harga
atau titik balik (turning poin) yang
krusial, tidak ada yang tau penyebabnya. Biasanya setelah kejadian, baru
kemudian kantor-kantor berita sibuk mencari keterangan untuk hal itu. Menurut pengalaman
dan pengamatan, terkadang karena tidak tahu atau belum diketahui penyebabnya,
maka publikasi yang ditampilkan terkesan hanya sekedar mencari “kambing hitam”
atau alasan saja.
Sebagai contoh suatu hari pasar modal Amerika terkoreksi
cukup tajam . berita mengatakan penyebabnya adalah karena harga minyak yang
melambung. Padahal jika diamati, harga minyak sendiri sudah berada di kisaran
harga itu sejak beberapa minggu terakhir. Pertanyaanya adalah “Kenapa hal ini
baru sekarang dijadikan sebagai alasan?” Jawabanya bisa jadi “Karena market
baru jatuh sekarang”, atau bisa juga karena “Belum ada alasan lain yang lebih
baik”.
Para technicalist juga mengatahui bahwa ada alasan-alasan
atau penyebab yang berada dibalik suatu pergerakan harga, hanya saja mereka
merasa tidak perlu tau “alasan tersebut” ataupun penyebabnya. Para technikalist
berpendapat, lebih praktis dan akurat membiarkan market itu sendiri yang
memberitahukan ke mana arah kecenderungan harga (trend) akan berlangsung, dan
hanya itu yang mereka perlu tahu.
![]() |
| credit foto: alamy.com |
Dalam studi teknikal analisis juga akan sering ditemukan suatu pola grafik
(chart pattent) yang sering terjadi
atau berulang dari waktu ke waktu. Karenanya pada pernyataanya poin nomer tiga
disebutkan “Sejarah akan berulang” (history repeats it self). Hal ini akibat
serta refleksi dari psikologis dan sifat dasar manusia yang tetap sama sejak
dulu.
Singkatnya, teknikal analisis memprediksi pergerakan arah
dengan menganalisis aksi pasar, sedangkan fundamental analisis fokus dengan
data-data keuangan untuk mencari nilai yang sesungguhnya dari suatu mata uang. Jika harga pasar di atas
nilai yang sesungguhnya, maka di sebut under value- tindakan yang harus di
lakukan adalah aksi beli. Namun teknikal analisis percaya bahwa efek adalah
segala yang dibutuhkanya, alasan atau penyebabnya tidak penting. Sebaliknya bagi
para fundamnetalis, mereka harus selalu mengetahui alasan dan penyebab terlebih
dahulu. Baik teknikal analisis maupun fundamental analisis keduanya mempunyai
tujuan yang sama, yaitu memprediksi arah pasar, hanya saja metode pendekatan
yang mereka lakukan berbeda.
Meskipun sebagian orang menyatakan dirinya seorang
technicalist ataupun fundamentalist, pada kenyataanya, mereka yang sudah cukup
lama berinvestasi di forex biasanya mempunya sedikit banyak pengetahuan tentang
keduanya. Hanya saja ada yang lebih condong ke teknikal analisis ada yang
lebih condong ke fundamental analisis. Sulit menyatakan mana yang lebih baik ,
namun secara garis besar teknikal analisis mempunyai dampak lebih bagi bagi
para treders yang memilih jangka waktu (time
frame) yang lebih pendek, sedangkan fundamental analisis digunakan oleh
para trader yang memiliki pandangan dengan jangka waktu lebih panjang.
Sebagai contoh, misalnya seorang short-term trader yang
tidak mempertahankan “posisi”nya lebih dari beberapa hari, tentu akan sulit
mengambil keputusan berdasarkan analisis fundamental. Dalam time frame ini
mereka tentu lebih menitik beratkan pada analisis teknikal. Karena pendekatan
dengan cara seperti ini lebih ringkas. Sebaliknya bagi seorang trader jangka panjang
yang -misalnya- ingin secara rutin atau berkala mengumpulkan sejumlah hasil profit
yang lebih besar, tentu analisis fundamental akan lebih membantu.


0 Response to "Mengenal Teknikal Analisis Secara Mendalam"
Post a Comment